pojok klaster

Anggrek Bulan

Kenapa sih dinamakan Larangan Indah?

Pertanyaan yang tidak terjawab hingga kini. Tapi, tidak ada yang aneh dengan kompleks mewah ini. Tidak ada papan larangan, juga tidak ada pantangan ketika aku memutuskan pindah rumah ke tempat ini.

Sudah 3 tahun aku keluar masuk Larangan Indah. Seakan-akan aku sudah menjadi salah satu warga di kompleks ini. Aha, jawaban yang tepat. Aku memang ingin sekali tinggal di perumahan ini. Selain tempatnya yang nyaman, ada banyak akses keluar menuju pusat keramaian. Segala hal ada di dalamnya. Mulai dari kolam renang, pusat kebugaran, supermarket, taman ‘kota’, sampai sekolahan pun juga ada.

Begitu luasnya, di Larangan Indah ada 8 cluster, dan semuanya nama-nama bunga. Ada Anggrek, Mawar, Teratai, Flamboyan, Bougenvile, Melati, Matahari, dan Sakura. Dan, sejak lama aku tertarik tinggal di cluster Anggrek. Bukan karena tipe rumahnya yang mungil, tapi juga jumlah rumah yang ada di cluster ini tidak terlalu banyak. Hanya ada 30 rumah.

Hari ini, menjadi hari pertama aku jadi warga custer Anggrek. Aku berhasil –atau boleh dibilang sukses- membeli rumah berukuran sedang yang letaknya di sudut jalan.

*Selamat menjadi warga Cluster Anggrek*

Semoga bahagia, betah, dan menikmati keriangan suasana di lingkungan yang penuh kekeluargaan ini. Salam kenal. Warga Cluster Anggrek.

“Kenapa bengong, Ma?” seru suamiku dari dalam rumah. Teriakannya yang nyaring mengagetkanku.

Ternyata, sudah setengah jam aku berdiri di depan taman. Tanganku masih memegang pot bunga anggrek, pemberian tetangga sebelah. Aku masih terbengong-bengong membaca kartu kecil yang menyertai bunga anggrek bulan itu. “Duh, sampai lupa. Siapa ya tadi namanya?” batinku sambil tersenyum-senyum. Buru-buru aku masuk ke dalam.

“Ngapain sih lama banget di depan,” tanya suamiku. Matanya menatap pot yang aku bawa. “Apa itu?”

“Anggrek Bulan. Tadi dikasih bu… duh, lupa namanya,” jawabku nyegir. Kutaruh anggrek itu di atas meja tamu. “Katanya, setiap penghuni baru, dapat beginian. Sekedar ucapan selamat datang.”

Suamiku masih sibuk merapikan rumah. Buku-bukunya saja sudah memenuhi sepertiga rumah. Belum yang lainnya. Ia sepertinya nggak peduli dengan pot berwarna putih ini, apalagi dengan isinya. Di taruh di ruang tamu pun tidak akan mengubah pendiriannya. “Yang penting, bunganya tidak mengganggu pandangan. Ingat, konsep rumah kita minimalis. Bunga anggrek nggak masuk hitungan.”

“Oh! Jadi?”

“Taruh aja di dapur!”

Aku melongo. Yah, mau gimana lagi. Kuambil pot itu dan menghilang dibalik dinding dapur.

9/01/2010

Advertisements

January 9, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

January 9, 2010 Posted by | Uncategorized | 1 Comment